Aku menatap wajahku sendiri pada cermin di sel penjaraku. Kumis putih ini harus kurapikan sedikit tampaknya. Wajahku tampak sangat lelah. Hari ini memang melelahkan. Para wartawan tidak pernah kehabisan pertanyaan untukku.
Sayang sekali, karena Pak Polisi tidak membolehkanku berkata terlalu banyak.
Aku punya banyak cerita untuk mereka.
Cerita tentang malaikat-malaikat kecilku.
---
Umurku 12 tahun dan aku sedang berlari. Berlari dari masa lalu. Berlari dari desaku. Berlari dari orang tuaku. Aku tidak akan mendapat apapun disini. Mereka tidak bisa memberikan apapun untukku, kecuali perkataan, “kamu bodoh!” yang kudengar dari mulut bapakku tiap melihatku dengan pandangannya yang merendahkan.
Aku tahu kakiku sedang melangkah kearah yang benar. Jakarta. Kota ini yang orang bilang penuh harapan untuk orang-orang sepertiku. Inilah titik balikku. Sepertinya aku memang perlu sedikit berlari.
Langkahku berhenti disebuah jalan. Lapangan Banteng. Kurasa aku akan menetap disini untuk sementara waktu. Aku mengamen dan meminta-minta untuk makan dan minumku. Aku tidur menggelandang disini, di Lapangan Banteng ini.
Sore itu, aku berjalan menuju tempat tidurku, kardus-kardus yang kukumpulkan dan sebuah tikar kecil yang kubeli seminggu lalu hasil tabunganku mengamen. Aku cukup senang hari ini, hasil ngamenku agak lebih banyak dari biasanya. Aku sudah membayangkan sebuah roti basi akan menemani nasi bungkus berisi kecap dan kerupuk untukku nanti malam.
Aku melihat seorang pemuda berbadan kurus mengamatiku sambil bersandar disebuah dinding. Aku mengalihkan pandanganku kebawah dan tetap berjalan, menggenggam erat uangku.
Beberapa langkah kemudian aku merasakan sakit ditengkukku, badanku diseruduk dan diangkat oleh seseorang, aku merasa dibawa kesuatu tempat. Aku bisa merasakan uang ditanganku diambil oleh orang itu. Kemudian aku dihempaskan disuatu tempat yang gelap. Mataku mengerjap. Nanar. Berikutnya sebuah pukulan keras mengenai dadaku. Samar-samar aku melihat orang itu membuka sabuknya. Aku berteriak dan meronta sekuat tenaga. Aku menangis.
---
“Bawa kerbaunya ke lapangan sebelah! Lebih banyak rumput disana.” Cuk Saputar berteriak padaku setelah aku mandi. Aku mengiyakan.
Aku patut berterimakasih pada orang ini. Cuk Saputar. Dia mengambilku dari kelamnya lapangan Banteng. Aku tidak pernah bercerita tentang apa yang terjadi sore itu pada Cuk, lagipula aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku cukup bahagia disini, di Kuningan. Bersama Cuk dan kerbaunya.
Kini umurku 21 tahun. Aku menikahi seorang gadis. Tetapi ada sesuatu yang salah. Bukan tentang gadis ini. Wanita ini bahkan, oh sangat sempurna.
Sesuatu yang salah itu dari masa lalu. Tampaknya dari sore tragis di Lapangan Banteng. Masa itu menghantuiku.
Aku tidak bisa membahagiakan istriku, aku juga tidak bisa bahagia. Aku adalah lelaki bodoh. Istriku putus asa, dia merana. Kesedihannya terbawa hingga ajal.
Aku memutuskan kembali ke Jakarta. Mungkin sebuah langkah bodoh selanjutnya.
---
Siang yang panas di hari ini. Aku membetulkan posisi topiku untuk sedikit menutupi wajahku. Negara ini sedang dalam posisi krisis, katanya. Aku tidak peduli, toh hidupku akan tetap seperti ini. Aku menatap dagangan rokokku. Kemudian menghitung uangku hari ini. Aku mendengus.
Hari berganti minggu, kemudian berganti bulan. Aku hanya bertemankan keringat, topi, dan rokok daganganku. Aku merindukan sesuatu.
Disebuah sudut aku melihat seorang anak kecil, berpakaian lusuh dan duduk tertunduk. Aku menghampiri dan duduk disebelahnya. Sejenak dia menatapku, wajahnya bersih, aku tersenyum. Dia menundukkan wajahnya. Aku menanyakan siapa namanya, dia menggeleng. Aku mendekatkan diri.
Malam datang, aku memeluknya.
Aku tahu dia adalah seorang malaikat kecil yang dikirimkan Tuhan untukku.
---
Aku menjerat lehernya dengan sebuah tali. Aku menjeratnya dengan kuat. Anak ini sangat memberontak kepadaku. Dia tidak menurut.
Mukanya merah, beberapa saat kemudian bibirnya terbuka dan tidak bergerak lagi. Aku melonggarkan jeratanku.
Aku menangis. Kupeluk jasad anak ini dan kucium tangannya. Aku kembali memeluknya. Malaikat kecilku, yang kedelapan, yang paling tampan.
Bingung. Selalu seperti ini. Setelah semua hal yang kulakukan menggebu-gebu, pada akhirnya selalu seperti ini. Jasad anak ini akan kukemanakan? Sudah tujuh kali, dan ini yang kedelapan, aku masih bingung.
Aku berlari keluar dan mengambil golok kesayanganku, kemudian kembali. Aku angkat badan anak itu dan aku mulai memainkan golokku seperti penyihir memainkan tongkat ajaibnya. Supaya gampang dan tidak ketahuan, pikirku.
---
Brak!! kepalaku masih pusing saat seseorang berbadan besar mengangkat tubuhku yang ringkih dan menabrakkan tubuhku ke tembok. Seseorang berteriak, “Polisi! Jangan melawan!”.
Aku tersenyum.
Masih memandangi cermin. Aku mengambil sebuah baskom berisi air, mencuci bekas cukuran kumisku.
Aku masih bisa merasakan malaikat-malaikat kecilku. Mereka disekelilingku dan aku bisa meraih mereka. Disini, di sel penjaraku.
Mereka sekarang disurga dan menantiku disana.
*cerita ini terinsipirasi dari kasus pedofilia dan pembunuhan mutilasi berantai yang dilakukan oleh Baekuni alias Babe. meskipun terinspirasi, cerita ini tetaplah fiksi yang tidak berdasarkan fakta sepenuhnya. -waskitha w galih-
suka suka..
BalasHapus